Talent and Hardworking

There are two kind of people in this world
1. People with talent, and
2. People with hardworking

First one, they naturally and usually easy getting something. But its also hard to make it remains on their selves and to make it better and better.

Second one, they will get what they want to be with a long fight. They learn, they fight for it, they make it better. The fighting itself is hard to do.

Which one?
I think everybody's learning. Easy or not, IT IS hard to make what they learnt better and better.

Talent without hardworking is the worst.

Balada Tingkat Akhir

Klise memang judulya

Eits, tapi ini bukanlah sebuah post berisi keluhan anak tingkat akhir yang mengeluh sana-sini atau mempermasalahkan dirinya yang malas. Bukan juga tentang anak tingkat akhir yang mengejar dosen hingga dikejar dosen. Atau bahkan mengenai persoalan cintanya yang belum kelar. 100% not one of those.

Ini tentang anak tingkat akhir dan temannya.

Mahasiswa tingkat akhir yang umumnya sedang menjalankan penelitian, tugas akhir, skripsi bakal sering tanya satu sama lain mengenai progress mengenai tiga perkara itu.
Contohnya: udah sampai mana? kapan kolokium? kapan seminar? kapan sidang? udah daftar ini? udah daftar itu?
like whatever lah.
Pertanyaan-pertanyaan itu entah dilontarkan untuk sekedar basa-basi seperti kebiasaan orang-orang karena nggak tahu topik apa lagi yang bisa mereka omongin -well, gue juga terkadang kehabisan topik, maka gunakan yang basa-basi ini :p.
Atau untuk bercanda, yang biasanya dilontarkan dengan nada menyebalkan wk cenderung nyindir. Yang ini nih yang jadi kebiasaan anak muda. Suka bercanda bahkan sampai kelewatan. Karena kebiasaan ini lah banyak orang yang menganggap bahwa semua pertanyaan itu 'menyindir'.
Tapi kan nggak semua seperti itu. Ada juga lho yang hanya ingin memperlihatkan kepeduliannya, atau bahkan BENAR-BENAR PEDULI sama kamu.

Hmm, it just happened. just.
I asked one of my closest friends about her seminar if it have took a date or not. And you know what? she replied in a question. Balasannya itu kaya orang nyindir balik suatu sindiran. Ya gue berusaha netral aja. Mungkin dia bercanda atau apa, yaa gue jawab pertanyaannya. Bercanda sih jawabnya, tapi serius. Dan gue tambahin maksud gue nanya itu apa. And then what. She just read it. I just dont get it why she... I dont know. Maybe she's tired or something.
But hey, its me whos asking. I dont really want to hurt you :(
- ugh, actually its really annoying when people don't get what you mean.

Pernah sih, gue menanggapi suatu pertanyaan semacam itu dengan ogah-ogahan karena yang nanyain terkadang menyebalkan :') - maaf yaa - dan saat itu gue sedang sakit - uu kacian wkwk.

But, People. Listen to this. Read this!
I wonder if people can, not to think people are the same. Apakah sulit untuk berusaha menganggap netral sebuah pertanyaan? - sulit sih emang hahha.
Jawab saja pertanyaan itu seperti biasa yang bisa kamu jadikan sebuah do'a, tinggal tambahkan InsyaaAllah, Bismillah, Aamiin. Ucapan itu do'a kan?! Well, gue percaya.

Toh kita sama-sama sedang usaha, sama-sama berada di suatu ambang, sama-sama dalam ketidakpastian. Dan kita berada di tahap yang sama.

And why did I ask her again? Because I just wanna be by your side, whatever it takes. Its you who choose to open your door or not.
Be by your side doesn't mean to support you weather you right or wrong. Be by your side means to protect you from doing wrong, weather its hurt or not.

Kata orang tingkat akhir menguak semua sifat asli mahasiswa. So, is that you?

vidyafa

Senyum Rembulan

Malam begitu dingin menusuk hingga tulangku tak bisa merasakan apa-apa. Aku berhenti dari lari panjangku yang sudah entah berapa lama. Aku tak terduduk, tetap berdiri kemudian menengadah menatap langit di tengah padang sabana. Ada bulan. Ya, rembulan yang tersenyum, seakan melengkungkan senyum kemenangan. Kemudian aku mulai menjejakkan kaki kembali melangkah menuju sebuah pohon nun jauh di sana.
Beberapa langkah sudah aku memijakkan kaki ke tanah sambil mengingat apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Beberapa waktu lalu aku sedang berlari kencang sembari menahan sakitnya luka di sana sini. Aku berlari dengan ketakutan yang amat sangat. Entah apa yang aku takuti. Terluka? Mungkin. Mati? Sangat mungkin. Kehilangan nyawa adalah hal yang paling tabu untuk aku pikirkan sejak kecil. Akan ada banyak pikiran liar tentang kematian yang menyeruak masuk dan memenuhi saluruh rongga kepalaku.
Sampailah aku pada pohon yang sedari tadi aku targetkan. Ternyata lumayan besar, jauh dari bayanganku sebelumnya. Tak terlalu besar untuk dipanjat. Aku pun memanjat pohon itu dengan susah payah. Berharap tak ditemukan oleh makhluk yang sudah menghabisi keluargaku. Monster.
Sampailah aku pada dahan yang lumayan kuat menopangku. Aku terbaring dan kembali menatap senyuman rembulan. Aku kembali teringat dengan peristiwa penghabisan di rumah. Ingatan itu sudah tak bisa mengalirkan air mata. Jauh dari rumah yang sudah tidak ada penghuninya membuatku mati rasa. Aku lelah. Ingin tidur. Tapi ingatan keluargaku membuatku terjaga. Tapi akhirnya mataku tertutup juga. Aku merasa aman.
Tiba-tiba aku terbangun karena suara lolongan. Mataku membelalak menatap bulan yang tersenyum semakin lebar. Lolongan itu. Lolongan si monster. Lolongan si pembunuh. Lolongan itu terdengar sangat dekat. Aku lengah. Jantungku berpacu dengan napasku yabg tersengal karena kaget. Tidak akan sempat rasanya bila aku turun dan kembali berlari. Dan luka-lukaku akhirnya memberi rasa sakit yang samakin luas. Sepertinya ia mencium bau darahku. Memang sudah tidak mengeluarkan darah sebanyak tadi, tapi tetap menetes. Aku tak bisa beranjak lebih jauh. Aku akan tetap di sini sampai monster itu berlalu sambil menekan luka lenganku yang masih menetes. Aku menunggu.
Lolongan itu semakin dekat. Aku membelalak kaget setelah mendengar lolongan lain bersama si monster. Ia tidak sendirian. Degup jantung yang mulai mereda kini kembali berdetak kencang. Aku mulai panik. Dua, tiga, empat, lima... Detak jantungku menghitung jumlah kawanan monster itu. Napasku makin tersengal, namun aku berusaha diam. Kawanan monster itu berbicara satu sama lain, dan berhenti tepat di bawah pohonku. Entah apa yabg mereka bicarakan, aku tidak mengerti bahasanya. Erangan, desisan, dan satu dua lolongan. Kemudian mereka mengambil posisi istirahat. Mungkin mereka mau tidur. Ini akan memakan waktu lama.
Darah dari luka yang sedari tadi ku tekan akhirnya tak terbendung, mencari sela untuk keluar. Aku menyadarinya, namun aku tak dapat berbuat apa-apa. Tes. Darah itu menetes ke atas kepala salah satu dari kawanan monster itu. Ia terbangun dan menengadah ke atas pohon. Check mate. Monster itu menggeram srhungga membangunkan monster lainnya yang belum sepenuhnya tertidur. Monster lain tersenyum lebar. Aku mulai mengambil posisi siaga. Salah satu monster mengetuk-ngetukkan kukunya ke pohon, membuat aku menengok padanya. Tanpa ku sadari monster yang terjauh dari pohon melompat berusaha menerkamku dan membuat dahan yang ku gantungi patah. Aku terjatuh bersamanya. Aku berusaha berlari. Monster lainnya menerkamku. Cakarnya menancap tepat di pinggangku dan membalikkan badanku secepat mungkin ke posisi terlentang. Habis sudah, aku sekarat. Kuku-kukunya menembus begitu dalam, mungkin beberapa tulang pinggul dan punggungku sudah retak karenanya.
Kawanan monster itu mulai menyantapku dengan buas. Sedikit demi sedikit. Aku sudah tak bisa bergerak, namum mataku masih bisa menatap rembulan yang tersenyum. Makin habis badanku. Semakin lama rasa sakit gigitan-gigitan monster-monster itu tak dapat ku rasakan. Di ujung mataku senyuman rembulan semakin lebar menyaksikan penghabisan ini, seraya bertanya 'mengapa mereka tidak mencium bau darahku?'. Hingga akhirnya tak dapat ku lihat seringaian rembulan. Mungkin memang ini takdir dari si mangsa serigala.


vidyafa

DEBAT #edisicurhat

"DEBAT
bukan tempat untuk mencari pembenaran, melainkan kebenaran"

Anything wrong with that?!

Mungkin di pikiran orang-orang sekarang debat merupakan hal yang dianggap melelahkan. Karena biasanya, dan kebanyakan yang saya pribadi saksikan akhir-akhir ini, debat dijadikan tempat untuk mencari pembenaran, mencari dukungan banyak orang, bahkan mencari kemenangan agar 'dipandang'. Sehingga banyak orang yang cenderung tidak suka, atau bahkan menghindarinya dan beranggapan as they say "kayaknya nggak mungkin..." atau "kayaknya susah kalau mencari kebenaran lewat debat".

Memang sih di KBBI tertulis bahwa debat merupakan kegiatan untuk bertukar pendapat dan mempertahankannya dengan argumen masing-masing (kurang lebih demikian).
Yang namanya 'bertukar', ya saling mengerti dan terbuka atas pendapat pihak lain, bukan?! (Yaa kalau menurut anda bukan, yaa ndak apa-apa, ini pendapat saya).
Maka hanya orang-orang yang terbuka pandangan, pikiran, dan hatinya lah yang akan menerima kebenaran itu, meskipun datangnya dari orang lain yang mungkin tidak kita suka. Kata orang mah kita kudu liat secara objektif kan, bukan secara subjektif.

Jadi sebenarnya debat itu sah sah saja, selama masih mengikuti tata krama. Seperti tidak memotong pembicaraan orang / pihak lawan bicara, tidak gontok-gontokan (ngotot), atau bahkan main fisik. Karena biasanya, orang yang akan mulai ngotot memiliki baqa' (naluri pertahanan diri) yang tinggi, sehingga tidak mau mendengarkan perkataan orang lain. Dan biasanya juga merasa dirinya terancam. Biasanya yang seperti ini tidak mau mengalah, karena biasanya mereka berpikiran kalau kalah debat yang ditanggung yaa... malu (nah ini nih yang harus diubah dalam pandangan setiap orang, termasuk gue 😂). Yaa jadilah debat kusir, di mana salah satu pihak atau seluruh pihak yang terlibat saling melontarkan pendapat dengan argumen yang biasanya sudah tidak masuk akal. Nah, debat semacam inilah yang baiknya ditinggalkan.

Gitu deh, sedikit unek-unek dan sedikit pendapat gue yang akhir-akhir ini terngiang-ngiang di pikiran wkwk. Akhir kata, mohon maaf bila ada kesalahan. Bye 😉

vidyafa

APRESIASI #edisicurhat

Terkadang kalau lagi ga ada kerjaan, bisa buka ig sampe post yang beberapa minggu lalu dipost akun-akaun yang terfollow 😂
Ada kalanya gue akan memberikan 'love' pada seluruh post yang gue lihat. Ada kalanya gue cuma melihat.
Ada alasannya kenapa gue kasih 'love' sebuah post.
Alasannya bukan sekedar gue di-tag di sana, atau ada akun lain yang di-tag di sana #eh. Terkadang bukan juga karena pengambilan gambar yang bagus, atau karya yabg indah.
Terkadang memberikan 'love' untuk mengapresiasi sebuah peristiwa... moment yang mereka abadikan... Moment yang ingin mereka simpan. Love those moments. Walaupun gambar yang diambil terkadang apa banget #peace wk, walau terkadang captionnya apa banget #peace lagi wk.
But
I'm loving appreciating the moment :)

Memang sih ig banyak yang menarik, tidak seperti path yang mulai ditianggalkan para penggunanya dengan alasan applikasinya yang 'berat'.
But I love using my path more than ig. Bisa lihat akun ig gue kosong, no post, no story, nothing. Cuma ada tag dari org2 yang sempat bermoment ria dengan gue, hehe.
Its not like I hate using ig or something. I just dont like to post every thing in a picture. Terkadang gue lebih suka menggunakan lagu utk menyampaikan apa yg gue pikirkan saat itu, dan itu tersedia di path.
Gue juga tidak menggunakan path utk mencari like sebanyaknya :p as i said that people start leaving that app :') but i use it just like a diary wkwk. As you know diary doesnt need to be seen. Thats another reason hehe..
I like appreciating, but doesnt really like to be seen #sometimes

There are many more reasons 😂 #bahasaapacoba
Too much illogical reasons that I have :p

vidyafa

DON'T JUDGE THE BOOK BY ITS COVER

"DON'T JUDGE THE BOOK BY ITS COVER", the wise said.

terus kita harus mengenal org lain lebih dalam kan? bukan dari sekedar penampilannya.
lalu bagaimana dengan pemikiran/tanggapan orang? well, people I know judge it by the words itself.
dont you ever think to ask the person who has that thought? well ask that person to know why he has that thought.

vidyafa

PENGAKUAN #edisicurhat

I am not the best person in the world

Maybe people keep telling me how friendly I am, or I am so kind or care for others.
No, I am not actually the person that you think.

I was emotionally emotional (wut?!), I was so easily upset, I didn't care people, I didn't care my surrounding. Just me, myself, and I. Maybe that's all still me.
I can't speak fluently (really, literally). I'm afraid of starting conversation. I'm afraid of making relationships, like friendship. Bahkan sekedar melakukan sapaan saat berpapasan pun sulit. gue selalu takut melakukan hal kecil yang berhubungan dengan orang lain. Like starting conversation like I said before. Gue kadang nggak ngerti bagaimana harus bersikap, or how to react. So that's the reason why I just make a straight face, even I can easily doing that.

Gue bukan tipe orang yang berpikir bahwa komunikasi jarak jauh itu penting. Like when the holidays come, then all of the communications just stop right there. Then nothing. No texting, no calling, no chatting, nothing. Literally nothing. So that made me have no real friends, until then.

Kemudian gue mulai belajar dari orang-orang sekitar. Gue mulai tahu bahwa friendships are important, so do how to maintain it. How to make relations with people, not only with myself. Dan gue sempat menyesalinya. Kenapa orang lain masih bisa berkumpul dengan teman-teman lamanya, sedangkan gue?!

It's so hard to make myself like what people think now.
And its still hard to start it, in every step when I take a closer step to others. It's just hard.
Also another step to act. Hard. Afraid. I am trying. Really hard.
Dan gue mulai belajar untuk tidak menghiraukan apa yang gue takutkan, bahkan terkadang kelewatan ha! Sorry :'(

You know I am still trying hard to do everything that people want to see in me.
It's not like I hate my self or what. I really love myself, all of what Allah gives to me, no matter what. But, I just dont know how to live a life.
I am learning.

vidyafa
Daisypath Happy Birthday tickers
Daisypath Halloween tickers